Ibadah itu adalah semua kegiatan yang semata-mata dilakukan hanya untuk Allah swt.
Dalam Al-Qur’an, ini dinyatakan dengan beberapa ungkapan, ada kalanya dengan “menghendaki kehidupan akhirat” atau sering juga di ungkapkan sebagai “menghendaki keridhaan Allah”.
Rasululah saw. Mengatakan “Sesungguhnya segala amal itu ditinjau dari niatnya dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang ia niatkan”

Dengan kata lain, bila kita melakukan kegiatan yang serupa dengan ibadah, tetapi tanpa diniatkan secara sadar , bahwa kegiatan itu dilakukan hanya semata-mata karena taat mematuhi perintah Allah dan/atau Rasul-Nya (lillahi ta’ala), maka pekerjaan yang dilakukan itu tidak dikategorikan sebagai pelaksanaan ibadah.
Sebagai contoh: Orang bekerja semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, atau menuntut Ilmu semata-mata untuk memenuhi kebutuhan profesinya, tanpa didasari lillahi ta’ala, tidaklah dapat dikategorikan melaksanakan ibadah. Orang tersebut hanya mendapatkan ganjaran dunia, sedangkan ganjaran akhirat berupa pahala tidak diperolehnya.
Surat Hud 15-16 mengisyaratkan, bila kita berbuat baik tanpa diniatkan semata-mata karena Allah swt, maka Allah akan membalas tunai perbuatan itu di dunia ini, tanpa menyisakan sedikitpun untuk akhirat.
Jadi jelaslah, bahwa yang menjadi syarat agar pengabdian atau ibadah itu sah adalah NIAT.
Sesungguhnya ada orang yang secara lahiriah terlihat berbuat amal ahli surga, padahal ia ahli neraka. Dan ada seorang yang secara lahiriah ia berbuat amal ahli neraka, padahal ia ahli surge. (HR Bukhari & Muslim)
Berkaitan dengan hadist di atas, kami teringat sebuat cerita tentang seorang raja yang bermaksud membunuh tawanannya seorang asing. Mengetahui hal ini, tawanan tersebut mengucapkan sumpah serapah dalam bahasa daerahnya yang tidak dimengerti oleh raja.
Raja bertanya pada salah seorang menterinya “Apa katanya?”
Menteri yang satu ini berhati emas, dengan niat baik dia berkata: “Baginda daia mengatakan bahwa Tuhan telah berfirman “ Orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia maka surgalah ganjarannya”.
Hati raja sangat tersentuh mendengar hal ini dan akhirnya memutuskan untuk tidak jadi membunuhnya.
Namun ada seorang menteri lain yang tidak suka kepada menteri pertama tadi, mengatakan:”Baginda sebenarnya tawanan tadi telah mengucapkan caci maki yang sangat keji”
Mendengar perkataan ini, Raja kemudian bertanya kepada menteri pertama tentang maksudnya, yang kemudian di jawab bahwa dia berbuat demikian semata-mata karena firman Allah, bahwa dirinya harus menolong orang yang sedang teraniaya dan tidak ada pamrih pribadi.
Mendengar Penjelasan tersebut Raja berkata kepada menteri ke dua:”Kebohongan yang dia ucapkan lebih baik daripada kebenaran yang kamu ucapkan, karena dia mengucapkannya dengan maksud baik, sedangkan kamu mengucapkannya dengan niat buruk untuk mencari muka”.

“Seringkali amal yang kecil menjadi besar karena baik niatnya dan seringkali pula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya”

Dengan demikian, dalam contoh diatas, meskipun bekerja atau memberi uang belanja kepada istrinya merupakan pekerjaan dunia, namun bila dilakukan dengan penuh kesadaran, bahwa kegiatan itu merupakan perintah-Nya, maka kegiatan tersebut merupakan kegiatan akhirat yang akan mendapatkan ganjaran akhirat juga (pahala).
“Apabila seorang muslim memberikan belanja kepada keluarganya semata-mata karena mematuhi Allah, maka ia mendapat pahala” (HR. Bukhari)