Siapa sih TIA itu?
Eiiit….bukan siapa, tapi Apasih TIA itu?

Suatu hari dalam sebuah seminar, seorang ibu merasa sangat kedinginan dalam ruangan seminar yang pendinginnya (AC) memang dingin.
Saat makan siang si ibu merasa bahwa mulutnya udah tidak simetris, maka segeralah beliau dibawa ke unit stroke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan yang dibutuhkan.
Hal senada juga terjadi pada salah seorang kolega yang merasa kesehatannya terganggu saat sedang rapat disebuah ruangan yang pendingin ruangannya masih bekerja baik, beliaupun kemudian dibawa kerumah sakit dan harus tinggal beberapa hari untuk menjalani terapi dan pengobatan terhadap bibirnya yang mencong.

Kenapa bisa terjadi ya? Apa sih penyebabnya?
Ituah dua pertanyaan diantara berbagai pertanyaan yang bersliweran dikepala ini.
Banyak orang bilang bahwa stroke itu datang tiba-tiba, tapi menurut Peter M Rothwell, profesor klinik neurologi Universitas Oxford Inggris- stroke itu penyakit sopan, dia kulonuwun dulu sebelum datang menyerang. Serangan kulonuwun ini disebut Transient Ischemik Attack (TIA) atau mini stroke, bukan Tia gadis tetangga sebelah yang suka pake rok mini laaa yauuuw.

Menurut Peter, pertanda paling sederhana datangnya stroke adalah melemahnya daya komunikasi atau sulit bicara lebih dari 10 menit.
Kalau hal ini terjadi, jangan tunggu sampai hari berikutnya, karena kemungkinan akan sangat terlambat.

Dalam penelitian terbaru Peter dan teman-temannya, mencatat 1.247 orang yang terkena mini stroke, mengalami penghambatan aliran darah di arteri otak. Dan ditemukan bahwa yang kena mini stroke akan berlanjut menjadi stroke, 1,2% terserang stroke hanya dalam 6 jam, 2,1% terserang dalam 12 jam kemudian, dan 50% stroke pada 24 jam berikutnya. Dia mengatakan 24 jam pertama adalah masa paling berharga untuk menyelamatkan penderita TIA.
Faktor-faktor yang menaikkan risiko terkena stroke:•
Usia diatas 60 tahun•
Tekanan darah tinggi• Gejala klinis lemah fisik• Durasi mini stroke (TIA)

Pasien dengan faktor risiko tersebut diatas harus diperlakukan sebagai pasien dalam keadaan darurat, tetapi ini bukan berarti yang berusia 30 tahun tidak ditangani.
Ingat bahwa era sekarang sudah sering bermunculan orang-orang yang masih berumur 30an tahun sudah menderita stroke.
Dengan tindakan cepat maka risiko buruk bisa dikurangi. Tindakan pertolongan yang cepat bisa mengurangi risiko serangan stroke hingga 80%.
Menurut Peter, pertolongan yang dilakukan sederhana, standard perawatan yang ringan seperti:• Pemberian aspirin berguna untuk mencegah penggumpalan darah yang bisa menyumbat aliran darah pada arteri otak.• Bisa ditambah clopidogrel (plavix), berfungsi seperti aspirin•
Terapi stattin adalah obat-obatan semacam crestor, lipitor dan zocor yang bisa menurunkan kolesterol darah•

Penurunan tekanan darahPasien TIA tidak boleh berada di rumah, dia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis dan menjalani observasi serta tes.

Menurut Daniel Laskowitz, profesor neurologi di universitas Duke, orang yang terserang TIA benar-benar harus dimasukkan kategori peringatan keras. Ini bukan sesuatu yang bisa ditunda atau nanti dulu, seminggu kemudian, seperti kalau kita terserang flu, karena stroke akan menyerang setelahnya.
Ada intervensi jelas yang dapat dilakukan rumah sakit untuk mencegah stroke.
Mereka bisa kembali kerumah apabila hasil tes menunjukkan hasil negatif, tetapi mereka harus waspada agar tidak mendapat serangan stroke kedua dengan pola hidup lebih baik.
Tidak banyak orang mampu bertahan hidup setelah serangan stroke yang ke tiga.
Sungguh suatu mukjizat ketika ada orang mampu bertahan hidup setelah serangan stroke yang lebih dari 10 kali, seperti sosok yang pernah tampil di acaranya Kick Andy.
So, ingat TIA ini bisa berakibat fatal kalau diremehkan bagi yang mengalaminya. Jangan remehkan dan jangan ditunda.
Usia muda bukan jaminan untuk tidak berkenalan dengan TIA.
Ayo kita jauhi TIA dengan bergaya hidup sehat

DIarsipkan di bawah: gaya hidup sehat, kesehatan purwati