Pasti. Setiap diri kita ingin kesesuaian antara kenyataan dan harapan. Kita mendambakan hidup bisa berjalan sesuai dengan apa yang ada di pikiran kita; bahagia, aman, dan disenangi semua orang. Tidak ada permusuhan dengan siapapun. Tidak ingin dibenci. Tetapi sebaliknya, ingin dicintai dan disukai oleh semua orang

Tetapi kedua sisi yang berlawanan ini; cinta dan benci, ternyata tidak akan pernah bisa berpisah. Ada yang mencintai kita tetapi ada juga yang membenci. Ada yang kita cinta dan ada juga yang kita benci. Benci selalu lahir, karena ada banyak faktor yang tidak bisa kita hindari.

Tidak Ada Manusia yang Sempurna
Manusia memang diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dibandingkan ciptaan Allah swt yang lain. Namun manusia tetap memiliki serangkaian kekurangan dalam statusnya sebagai makhluk. Tidak ada manusia yang sempurna, utuh, tanpa cela dan kekurangan.

Yang sempurna hanya Allah swt, Sang Pencipta. Dialah Pemilik kesempurnaan. Dialah Dzat yang tanpa cela. Tanpa kekurangan. Tanpa kelemahan, dalam sifat, perbuatan, ketentuan, dan hukum-Nya, sehingga Dia tidak layak dibenci oleh siapapun. Sedang manunia, umumnya adalah makhluk yang mempunyai banyak kelemahan dan keterbatasan, dan Allah swt telah menegaskan sifat lemah mereka di dalam Al Qur’an, di mana mereka sering mendapatkan dispensasi-dispensasi hukum karena sifat lemah itu. Allah swt berfirman, “Allah hendak memberikan keringan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisa’: 28)

Sifat lemah manusia begitu jelas terlihat ketika mereka terkena musibah, atau tertimpa kesulitan, di mana mereka cenderung suka berkeluh kesah. Karena Allah swt pun memang telah melengkapi kelemahan mereka dengan sifat itu.
Dia menegaskan, “Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.” (QS. Al Ma’arij: 19)

Manusia juga cenderung melakukan penyimpangan dan berlaku sombong, seperti disebutkan dalam ayat, “(Orang yang membanggakan diri) yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia ALlah yang telah diberikan-Nya kepada mereka…” (QS. An Nisa’: 37)

Ini hanya sedikit ayat yang menjelaskan dan membuktikan bahwa manusia memang memiliki banyak cela dan kekurangan. Jika pun kita mendapati seseorang, yang menurut penilaian dan pandangan kita nyaris tak ada kekurangan, mungkin karena kita belum banyak berinteraksi dengannya.

Jika misalnya, suatu saat kita punya kesempatan untuk hidup bersama dengan orang itu, di sana kita pasti akan mendapati celah dalam dirinya kalau ternyata orang tersebut punya kekurangan. Kekurangan yang tidak tampak jika kita hanya melihatnya sekilas saja.

Begitu juga sebaliknya, jika kita memberikan penilaian pada seseorang dengan predikat penuh kekurangan, banyak kesalahan, barangkali di sisi lain Allah swt telah membekalinya dengan serangkaian kelebihan, yang mungkin saja melampaui kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri kita.

Maka, kalau kita menyadari ini, sangatlah pantas jika kita selalu menyediakan ruang dalam hati kita untuk dibenci, karena kita pun bukan manusia sempurna. Banyak kekurangan pada diri kita, yang mungkin saja akan tidak disukai oleh orang lain.

Keberagaman itu Sangat Indah
Di sebuah taman yang indah, akan kita temukan bunga-bunga dari jenis yang beragam, warna-warna yang berbeda, serta bentuk dan aroma yang berlainan. Bunga-bunga itu, meski tumbuh di atas tanah yang sama, disirami dari air hujan yang sama, disinari dari cahaya matahari yang sama, tetapi tak satupun yang sama. Bunga-bunga itu tumbuh beragam, dan ternyata keragaman itulah yang telah menciptakan keindahan di taman itu. Keragaman itulah yang telah menghadirkan keharmonisan. Keragaman itu pula yang selalu memberi daya tarik kepada kita untuk selalu menikmatinya.

Andaikan saja bunga-bunga itu, hanya memancarkan aroma yang sama, buah, daun, dan dahannya dari jenis dan warna yang serupa, tentu keindahannya akan berkurang. Membosankan dan menjemukan. Dan mungkin tak akan kita lihat orang-orang yang selalu menggunjinginya.

Bukan hanya bunga-bunga, tapi juga Allah swt menciptakan manusia dengan keragaman bentuk badan, paras wajah, kepribadian. Semuanya tidak ada yang sama, sekali pun dua anak kembar yang lahir dari satu sel. Subhanallah. ada yang berparas ayu, manis, bahkan sangat cantik. Tetapi ada juga yang berwajah sedang, dan tidak ayu. Ada lelaki yang bertubuh besar, tinggi, kekar, atau gadis yang anggun dan tinggi semampai. Tetapi ada juga yang kurus dan kerdil.

Di kehidupan nyata, kita juga menemukan banyak keberagaman. Ada keragaman berpikir, keragaman pandangan, keragaman kesenangan, tabiat dan prilaku. Semua keragaman itu telah melahirkan keagungan, keindahan, keserasian dan kesempurnaan yang tiada tara. Kita menjadi saling membutuhkan karena keberagaman itu. Tapi juga ada yang membenci karena kita tidak seperti yang dia inginkan.

Keragaman itu adalah bagian dari fitrah penciptaan dan fitrah keindahan. Allah swt berfirman, “Sungguh, usahamu memang beraneka ragam.” (QS. Al-Lail: 4)

Keragaman itulah yang melahirkan keindahan. Keserasian. Dan keharmonisan.
Maka menghendaki atau memaksakan satu keinginan saja, sama artinya kita menolak keharmonisan, dan hanya menebar kebencian. Kebencian selalu ada, selagi ada yang menghendaki kesamaan. Namun, hanya Allah yang mampu mempersatukan dan menyeragamkan, sebagaimana firman-Nya, “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 63)

Karena itu, kita harus selalu menyediakan ruang untuk dibenci karena kita memang beragam.

Memahami Latar Belakang Setiap Orang
Kesalahan kita memahami orang lain, atau kesalahan orang lain memahami kita seringkali berawal dari kesalahan memahami latar belakang. Padahal, latar belakang punya peran membentuk pola piker, cara pandang, karakter, kepribadian dan pendirian seseorang.

Perbedaan latar belakang ini sering membuat orang lain tidak mudah menerima kita. Perbedaan latar belakang kerap menjadikan sebuah maksud baik tidak berbalas. Kadang, perbedaan latar belakang menjadi penyebab lahirnya kebencian.

Lihatlah, betapa dakwah Rasulullah saw ketika berhadapan dengan orang-orang kafir Quraisy seakan menghadapi tembok yang kokoh. Perlawanan, hinaan dan dan penyiksaan setiap saat beliau terima. Bukan karena mereka tidak percaya dengan kebenaran yang dibawa oleh beliau, melainkan karena meraka adalah golongan bangsawan dan pewaris keyakinan nenek moyang yang penyembah berhala. Mereka merasa dikecilkan jika harus mengikuti agama baru yang bernama Islam, yang ajarannya sangat bertentangan dengan kebiasaan mereka di masa lalu.

Di mana-mana Rasulullah saw selalu mendapatkan perlakukan kasar. Di Thaif, misalnya, beliau bahkan dilempari dengan batu hingga tubuhnya penuh luka dan bercucuran darah. Melihat penyiksaan itu, malaikat pun menawarkan diri untuk menimpakan gunung kepada orang-orang kafir. Namun beliau saw menolaknya dengan mengatakan, “Jangan, karena mereka tidak tahu.”

Beliau juga pernah diboikot oleh orang-orang Quraisy selama tiga tahun, sehingga beliau dan sahabatnya hanya bisa memakan daun-daunan untuk mempertahankan diri dari kelaparan dan kematian. Tetapi beliau tidak pernah dendam.

Latar belakang mereka ini sangat dimengerti oleh Rasulullah saw, sehingga walaupun dakwah beliau selalu dibalas dengan kebencian beliau tidak pernah balik membenci. Beliau bersabar, meskipun cercaan dan intimidasi tidak pernah berkurang. Bahkan dalam kesabaran itu beliau mendoakan, “Wahai Rabbku, ampunilah kaumku. Sesungguhnya mereka hanyalah kaum yang belum mengetahui…”. Beliau saw telah memberikan contoh cara membalas kebencian yang sangat indah; memaafkan dan mendoakan.

Salah memahami latar belakang seringkali menjadi kendala ketika kita mengemban misi, menyampaikan sebuah kebenaran, ide ataupun gagasan. Selalu ada prasangka yang tidak baik dari banyak orang. Dan ini dipahami Imam Malik ketika ia telah selesai menuliskan kitabnya Al Muwaththa’, dan banyak orang yang kagum dengan isinya yang sangat baik. Termasuk khalifah yang berkuasa saat itu. Sang khalifah bahkan mengusulkan kepada Imam Malik agar kitab tersebut dijadikan pegangan seluruh umat Islam. Namun Imam Malik menolak dan berkata, “Jangan, sebab banyak orang yang berbeda latar belakang pemahaman agamanya. Mengharuskan mereka mengambil kitab ini sama saja dengan pemaksaan dan menebar fitnah.”

Kesalahpahaman di antara kita, yang kemudian melahirkan kecurigaan dan kebencian akan selalu ada karena kita memang saling berbeda latar belakang.

Kepuasan Manusia adalah Pemenuhan yang tak Berujung
Disukai banyak orang tentu sebuah kenikmatan. Karena kita akan merasa nyaman, tenang dan aman bersama mereka. Bebas dari makarnya, jauh dari kebenciannya, dan dekat dari persahabatannya. Sebab itulah kita selalu berusaha menyenangkan hati setiap orang yang kita kenal atau yang tidak kita kenal; menjaga perilaku, ucapan, perasaan, sikap dan sifat yang tidak disukai.

Tetapi, apakah itu bisa? Menyenangkan hati semua orang barangkali merupakan hal yang nyaris mustahil dicapai. Sekuat apapun usaha yang kita lakukan. Senyata apapun kebenaran yang kita sampaikan. Dan sejelas apapun persoalan yang kita utarakan. Sebab setiap manusia memiliki selera yang berbeda, emosi yang tidak sama, dan tingkat pengetahuan yang beragam, serta dua madzhab yang selalu berlawanan; hak dan batil. Jika kita bermadzhab pada yang hak, maka orang yang tidak baik pasti benci kita. Dan jika kita bermadzhab pada yang batil, tentu orang yang baik pasti akan menjauhi kita. Sebab keburukan dan kebaikan, selamanya pasti tidak akan berdamai.

Sepanjang sejarah manusia, para penyeru kebenaran selalu mendapatkan musuh-musuh besar yang membencinya. Pun para dajjal, mereka mendapat perlawanan dari para pahlawan pembela kebenaran. Jadi, di belahan sisi manapun kita berdiri pasti akan menjumpai orang yang tidak suka dengan kita. Karena itu, menyenangkan semua orang tentulah sangat sulit dilakukan. Tetapi kita tentu juga tidak boleh berdiri di atas dua sisi itu hanya karena ingin menghilangkan kebencian. Karena sikap seperti ini hanya akan mengaburkan jati diri, merusak kehormatan, dan merendahkan martabat kita sebagai manusia. Kehormatan itu akan kokoh jika kita tetap berdiri di sisi kebenaran.

Luqman Al Hakim, suatu hari menasehati anaknya untuk tidak menggantungkan hatinya pada kepuasan dan ridha manusia. Sebab, katanya, kepuasan dan keridhaan manusia pasti sulit dicapai. Dan untuk membuktikan hal ini kepada anaknya, Luqman pun mengajaknya ke luar rumah, berjalan-jalan di keramaian manusia, sembari membawa keledai tunggangannya.

Saat keluar di jalan raya, Luqman menunggangin keledai tersebut dan membiarkan anaknya berjalan kaki di belakangnya. Ketika melintasi sekelompok orang, Luqman dan anaknya mendengar mereka berkata, “Lihatlah lelaki tua itu. Betapa keras hatinya dan betapa tidak punya belas kasih kepada anaknya. Bagaimana dia tega menunggangi keledai sementara membiarkan anaknya berjalan kaki di belakang.”

Luqman pun turun dan menyuruh anaknya menaiki pelana keledai. Ketika melewati sekelompok orang yang lain, keduanya lagi-lagi mendengar obrolan orang-orang itu tentang diri mereka, “Perhatikan anak dan bapak itu. Si bapak tetnu tidak pernah mendidik anaknya dengan baik sehingga anaknya tidak bisa menghormati dan mengasihi bapaknya.”

Anaknya pun turun dari punggung keledai, lalu berjalan bersama bapaknya di belakang keledai, tetapi orang-orang yang mereka lewati masih terus berkomentar, “Aneh sekali dua lelaki ini. Mereka biarkan keledainya berjalan sementara mereka mengikuti dari belakang.”

Akhirnya, mereka berdua menaiki keledai tersebut. Namun begitu melewati kerumanan yang lain, komentar miring pun terdengar, “Lihatlah kedua orang itu. Mereka benar-benar tidak punya belas kasihan pada binatang. Mereka menyiksannya dengan menaikinya bersama-sama, padahal badan mereka begitu besar.”

Pada riwayat lain tentang kisah ini menyebutkan, Luqman dan anaknya kemudian turun dari keledainya, lalu mengikat dan memikulnya secara bersama-sama, sehingga semua orang yang melihatnya tertawa dan menganggap mereka sudah gila.

Realita kehidupan kita memang tidak pernah menyediakan ruang bebas cela.
Karenanya, sebelum kita mendapati cela itu sediakan selalu ruang di hati kita untuk dicela.

Cara Mengurangi Kesalahan dan Dosa
Ajaran Islam itu ada yang bersifat anjuran dan larangan, ada pula yang bersifat penerimaan. Kita dianjurkan untuk memperbanyak amal dengan melakukan hal-hal yang baik, seperti memberi, tersenyum, menolong dan menyenangkan orang lain. Di sisi yang berbeda, ada larangan-larangan yang harus kita tinggalkan seperti, hasad, iri, menyakiti dan semua perbuatan yang bisa merugikan dan berdampak negative.

Namun di luar itu, Islam mengajarkan kita untuk juga bisa menerima, seperti ketika kita tertimpa musibah, dicaci, dikucilkan, dan dibenci. Penerimaan ini punya tujuan yang sama dengan ajaran yang bersifat anjuran maupun larangan; mendapatkan pahala, ampunan, dan kasih sayang dari Allah swt, serta pengurangan dosa dan kesalahan.

Penerimaan itu maksudnya adalah menjalani sesuatu itu dengan ikhlas, sabar, dan tabah, dengan keyakinan bahwa Allah Maha Tahu tentang diri kita dan kualitas kita, tentang sesuatu yang disangkakan buruk oleh orang lian dari diri kita. Penerimaan itu adalah merelakan orang lain melakukan kebenciannya dengan tidak melakukan hal yang serupa kepada orang tersebut, dengan harapan mudah-mudahan kebencian itu dapat mengurangi kesalahan kita, menghapus sebagaian dosa-dosa kita, dan lebih dekat dengan Allah swt. Sebab, seperti dijelaskan Rasulullah saw bahwa seorang hamba yang terzhalimi tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah swt.

Menerima tidaklah semudah melakukan anjuran atau meniggalkan larangan. Orang yang dibenci tentu selalu punya emosi untuk balik membalas. Orang yang dicaci punya hasrat untuk kembali menyerang. Karena itu, penerimaan lebih kuat pada aspek pengendalian diri, dan karenanya pula Allah murka kepada orang-orang yang tidak sanggup menerima ketika Dia mengharuskan mereka menerima. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, “Dan siapa yang tidak sanggup bersabar menerima ujian-Ku, maka hendaklah dia keluar dari kolong langit-Ku, dan hendaklah dia mencari tuhan selain diri-Ku.”

Kebencian orang lain pada kita membutuhkan penerimaan yang tulus , ikhlas dan sabar. Bukan penerimaan yang direkayasa. Bukan penerimaan yang sengaja diciptakan, dengan membuat kita agar kita mendapatkan kebaikan dari perlakukan buruk mereka. Bukan itu.
Memadamkan apa benci tidaklah mudah. Karena itu, di hati kita harus selalu ada ruang yang tersedia untuk menerimanya.

Tetapi yang lebih penting setelah itu, kebencian itu kita hapuskan dengan maaf, karena sikap itulah yang akan mengantarkan kita kepada surga-Nya Allah swt, seperti lelaki yang disebut Rasulullah saw sebagai ahli surga, yang ternyata terbiasa menghapus kebencian dari hatinya kepada siapa saja, sebelum ia tidur malam.