Jalan Kaki Bergegas, dapat jinakkan 9 Jenis Penyakit

STUDI dalam beberapa tahun terakhir semakin mengukuhkan, bahwa berjalan bergegas/cepat dan bukan jalan santai, memang memberi banyak manfaat bagi kesehatan kita.
Secara kuantitatif ditandai dengan tercapainya frekuensi denyut nadi 75% x 220 – usia;
kalau secara kualitatif jalan dengan “kecepatan penuh” tapi tidak sampai tersengal.
Berjalan selama 40 – 60 menitper hari sangatlah memadai, konon 20 menit pertama yang di ubah menjadi kalori adalah gula dan 20 menit berikutnya yang diubah lemak.
Inilah sembilan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas jalan kaki.

(1) Serangan Jantung.
Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung.
Kita tahu otot jantung membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar.
Berjalan kaki bergegas memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung, dengan demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga untuk bisa tetap cukup berdegup. Bukan hanya itu, kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki cepat itu.
Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah penyumbat pembuluh juga akan berkurang.
Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki bergegas. Perlu diketahui bahwa tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan bergerak badan.
Berjalan kaki bergegas tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.

(2). Stroke.
Kendati manfaat berjalan kaki cepat terhadap stroke, pengaruhnya belum senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu tidak sebanyak sekarang.
Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke menurun duapertiga.

(3). Berat badan stabil.
Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki, kelebihan kalori yang mungkin ada, akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.

(4). Menurunkan berat badan.
Identik dengan mempertahankan berat badan tetap stabil, mereka yang mulai kelebihan berat badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kaki bergegas itu secara rutin. Kelebihan lemak di bawah kulit akan dibakar bila rajin melakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.

(5). Mencegah kencing manis.
Dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).
Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat tidak diperlukan.
Itu berarti bahwa berjalan kaki bergegas sama manfaatnya dengan obat antidiabetes.

(6). Mencegah osteoporosis.
Betul. Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga.
Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak cukup pemberian ekstra kalsium dan vitamin D saja, untuk mencegah atau memperlambat proses osteoporosis, tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis.
Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan tulang.

(7). Meredakan encok lutut.
Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut (osteoarthiris) .
Dengan membiasakan diri berjalan kaki bergegas, atau memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda.
Untuk mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan berselang-seling, tidak setiap hari.
Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada sendi untuk memulihkan diri.
Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan semakin bertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk. Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi.
Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa jadi lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki.
Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah sekalipun, bisa memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki, akibat beban dan goncangan yang harus dipikul oleh sendi.

(8) Depresi.
Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki bergegas juga membantu pasien dengan status depresi. Berjalan kaki bergegas bisa menggantikan obat antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal terbebas dari depresi dengan berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10 tahun.

(9). Kemunculan Kanker juga dapat dibatalkan bila kita rajin berjalan kaki, setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma).
Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air besar lebih tertib, kita tahu pula bahwa kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih lama di saluran pencernaan, dengan melancarkan BAB, kanker usus dapat dicegah.
Studi lain juga menyebutkan, adanya peran berjalan kaki terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara.

Disamping porsi jalan bergegas diatas, jumlah ayunan langkah kaki kita perhari juga berperan bagi pembinaan kesehatan. Target 10.000 langkah perhari merupakan jumlah yang disarankan untuk dicapai. Sebagai ilustrasi, jalan kaki cepat yang saya lakukan 40 menit setiap hari, hanya dapat mencapai sekitar 4.700 langkah saja, jadi kekurangannya harus diselesaikan dengan kegiatan lain dalam hari itu, usahakan selalu menggunakan kaki anda untuk melangkah, gunakan tangga, hindarkan lift & eskalator, gunakan tangga ke lantai tiga, cari parkiran jauh dari pintu, makan siang agak jauh dari ruang kerja, sholat berjamaah di mushola atau masjid daripada di sudut ruang kerja, dll.

“KEEP MOVING GUYS”

Disusun dari tulisan Dr. Leo Marcelinus Handoko HP., SpKJ, MSc; Psychiatrist & Consultant of Nerve Revitalization