Saya teringat pengalaman saya dulu, saat awal-awal masuk ke masjid untuk menjalankan sholat, saya melihat ada tempat kosong di ujung ruangan, sehingga untuk mencapainya saya menembus barisan shaft. Semula lancar, sampai pada suatu saat perjalanan saya terhenti, karena ada tangan yang melintang dengan raut muka yang marah.

Baru kemudian hari saya mendengar ada yang mengatakan bahwa, apabila ada orang yang akan lewat di depan kita ketika sedang sholat maka kita harus menghalanginya. Dan apabila dia tetap memaksa lewat juga kita harus membunuhnya, pantas orang tersebut menahan saya dengan muka marah.
Jadi bagaimana sebenarnya hadist yang menjelaskan tentang hal ini dan bagaimana cara yang baik untuk menghalangi orang yang akan lewat di depan kita ketika sedang sholat?

Melewati orang shalat di bagian depan adalah hal yang dilarang dalam agama.
Dalilnya adalah hadits muttafaqun ”alaihi berikut ini:
Rasulllah SAW bersabda,
“Seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui tentang dosanya, maka pastilah menunggu selama 40 lebih baginya dari pada lewat di depannya.
(HR Bukhari dan Muslim)
Salah saeorang perawi hadits, Abu An-Nadhr, berkata, “Aku tidak tahu apakah maksudnya 40 hari, 40 bulan atau 40 tahun.

Maka agar kejadian seseorang lewat di depan kita yang sedang shalat tidak terjadi, alangkah baiknya bila kita tidak shalat di ”jalanan” yang kemungkinan akan dilewati orang.
Caranya, kita pasang pembatas dengan meletakkan benda-benda tertentu di depan kita. Misalnya batas sajadah, atau buku, tas, tongkat, pensil atau apapun.
Dengan adanya batasan itu, maka orang-orang akan tahu bahwa mereka tidak boleh berjalan di situ.
Kalau mau melewati, maka silahkan lewat di luar batas yang sudah dibuat.

Kalau anda suka memperhatikan perilaku sebagian orang, mungkin anda pernah mendapati mereka apabila melakukan shalat sunnah, bergerak mendekati tiang atau tembok. Sebenarnya ini juga termasuk bentuk menghindarkan diri dari dilewati orang lain. Tembok atau tiang itu adalah batasan yang tidak boleh dilewati.

Dan ada dalil dari sunnah nabawiyah yang menganjurkan hal ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim.
Janganlah kalian shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas) dan jangan perbolehkan seseorang lewat didepanmu (HR Muslim)
Dari Abi Said Al-Khudri ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Apabila kalian shalat maka gunakan ke sutrah (pembatas) dan hendaklah mendekat dan jangan membiarkan seseorang lewat di tengahnya.
(HR Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan haditsi ini hasan)
Dari Sahal ra bahwanabi SAW bersabda,
“Apabila kamu shalat dengan menggunakan sutrah maka mendekatlah dan jangan sampai dipotong syaitan.
(HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Hadits shahih)

Para ulama menuliskan dalam banyak kitab fiqih bahwa batas jarak itu adalah 3 zira/ hasta. Sehingga bila jarak antara orang shalat dengan pembatas itu lebih dari 3 hasta, maka dianggap boleh dilewati dan tidak ada dosa buat yang lewat di depannya.
Ukuran jarak 3 hasta ini oleh para ulama dianggap berlaku juga bila tidak ada pembatas. Sehingga lewat di depan orang shalat asalkan sudah berjarak 3 hasta dianggap tidak melanggar larangan.