Ya, aku teringat saat almarhum nenek masih hidup, beliau mulai pikun saat usia menginjak 85 tahun.
Pernah sepulang pengajian dikampung, bukannya berjalan kearah rumah tetapi malah berjalan kearah berlawanan. Beruntunglah nenek tinggal didesa, sehingga banyak orang yang dengan sukarela mengantarkan nenek pulang.
Tetapi pada kondisi yang sama, teman sebaya nenek yang kebetulan rumahnya bersebelahan masih kuat daya ingatannya, sehingga beliau masih bisa menjual buah kelapa yang jatuh dari pohon ke pasar yang jaraknya sekitar 0,5km dari rumah.

Aku tidak tahu penjelasan mengenai dua keadaan yang sangat kontras tersebut, tetapi kalau dipikir-pikir lebih dalam mungkin karena teman nenek tinggal sendiri sehingga segala sesuatunya harus dilakukan sendiri alias mandiri, sementara nenek dikelilingi oleh anak, menantu dan cucu sehingga nenek tidak pernah diijinkan untuk menyapu apalagi berkebun dan mencari pakan kambing dihalaman depan rumah, pendek kata nenek sangat dijaga oleh anak, menantu dan cucunya. Tidak boleh bekerja sedikitpun, yang boleh dilakukan oleh nenek hanyalah menunggui cucu-cucunya bermain.
Beruntunglah aku punya tante dan om serta keponakan yang sabar, sehingga nenek yang sudah pikun sering minta makan karena lapar dan belum makan, padahal piring bekas makanpun belum sempat dicuci, tetap dilayani dengan sabar.

Kalau aku datang, nenek suka bertanya siapa kamu? Kamu anaknya siapa? Sekali dijawab, sebentar kemudian akan bertanya lagi.
Entah benar entah salah yang kupahami tentang penyebab kepikunan itu, tapi yang jelas bapak dan ibuku tidak pernah kularang untuk melakukan aktivitas pengisi waktu, bahkan kalau bapakku akan bepergianpun kubiarkan beliau naik sepeda onthel atau sepeda motor sesuai pilihannya. Beliau masih sanggup naik sepeda motor memboncengkan ibuku untuk menghadiri pengajian di kampung lain. Kadang aku cari tanaman, dan ayahku yang merawat dan mengembang biakkannya. Kakakku sering meledek aku sebagai anak yang kurang ajar, karena membebani bapakku dengan tanaman-tanaman itu. Anehnya, bapakku senang, bahkan kalau pupuk atau media tanam habis beliau minta untuk dibelikan. Beliau akan sangat bahagia, saat lebaran tiba dan banyak sanak famili yang datang minta berbagai tanaman yang sudah ditangkarkan oleh bapakku.
Dan syukur alhamdulillah diusia 76 tahun ingatan bapakku masih kuat, bahkan beliau lebih ingat dimana beliau menyimpan ijazah ataupun surat-surat penting dibanding aku, sehingga aku malah meminta bapakku untuk menyimpan surat-surat penting. Bahkan sering aku heran, beliau masih kuat makan sate dan gule kambing, sementara aku sudah mulai mengendalikan mengkonsumsinya, karena makan 1 porsi sate kambing aja, kepalaku sudah mulai kenceng-kenceng.
Hanya kalau kuamati ada perubahan psikologis bapakku sejak beliau menjalani operasi prostat 4 tahun lalu, perasaan beliau menjadi lebih sensitif.
Beberapa tahun lalu sering kalau ada berita tentang orang meninggal beliau tidak mau melayat, katanya badannya jadi tidak enak atau gatal-gatal. Untunglah keadaan itu sekarang sudah bisa diatasinya. Yang tersisa adalah perasaan mudah tersinggung, tersinggung sedikit saja, bapakku akan diam dan menyendiri dikamarnya diatas, kalau sudah begini tugas ibuku untuk membujuknya dan membuatnya tertawa kembali.
Selebihnya beliau masih bugar, bahkan sering anak tetangga yang berumur 2 tahun minta digendong untuk diajak naik keatas kekamar bapakku.
Semoga akan begitu adanya dan kalaupun pikun menjelang, semoga anak-anaknya sudah siap menerima dan mampu merawatnya dengan baik.
Sandra, psikolog Kassandra Associate, mengatakan kunci utama merawat orang tua adalah keikhlasan dalam penerimaan. Ketika keluarga ikhlas menerima kehadiran orang tua yang sudah lanjut usia, tidak akan menimbulkan masalah, sebagaimana dikutip dalam koran tempo edisi minggu, 7 juni 2009. Semua anggota keluarga harus bisa menerima kehadiran orang tua lanjut usia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Dan rasanya sampai 10 tahun kedepan semua anak masih harus menyiapkannya diri untuk hal ini, karena budaya di negara kita Indonesia tercinta ini belum berubah seperti di luar negeri, dimana para orang tua tidak akan tinggal bersama anak-anaknya tetapi tinggal dipanti jompo.
Dengan kondisi orang tua yang sudah menurun segala kemampuan itu, diperlukan pengertian dari yang muda.
Misalnya, orang tua tersebut mudah tersinggung, hindarilah hal-hal yang mudah membuatnya marah. Masalah sering muncul karena ketidakikhlasan dalam merawat orang tua yang sudah lanjut usia dirumah.
Hal ini akan menimbulkan kelelahan phisik maupun psikis.
Merawat orang tua yang sudah lanjut usia bukan pekerjaan mudah, tapi ingat merawat orang tua adalah salah satu bakti anak pada orang tuanya, dan merawatnya dengan baik adalah kewajiban anak, bahkan merupakan ibadah seorang anak.

Erwin Dariyanto memberikan tip merawat orang lanjut usia sebagai berikut:•
Amati kemampuan kognitif dan psikis orang tua. Sejauh mana dia masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari.•
Jangan melakukan kegiatan yang membuat dia tersinggung.
Misalnya membantu sebelum dia minta tolong karena justru bisa menyinggung perasaannya•
Orang tua perlu diberi kegiatan, seperti membaca dan menonton televisi untuk merangsang daya ingat tetap terjaga•
Jika ada angota keluarga yang belum bisa menerima kehadiran orang tua, usahakan mereka tinggal ditempat terpisah tapi dekat dengan tempat tinggal kita•
Tanamkan kepada anak-anak bahwa merawat orang tua adalah ibadah.
Pada saatnya nanti, kita juga akan mengalami masa tua, pikun dan kemampuan menurun.
Semoga kita termasuk anak-anak yang mampu merawat orang tua kita dengan baik. Amin.