Mungkin sebahagian kita masih bertanya-tanya tentang Mazi dan Wadi, atau mungkin ketika anak kita bertanya, kita tidak bisa memberikan jawabannya…..

Mazi adalah:
– cairan bening yang keluar dari kemaluan laki-laki biasa, akibat percumbuan atau hayalan.
– Warnanya bening dan biasa keluar sesaat sebelum mani keluar.
– Namun tidak seperti mani, keluarnya mazi tidak deras dan tidak memancar.
– Perbedaan dengan mani, yaitu bahwa keluarnya mani diiringi dengan lazzah atau kenikmatan (ejakulasi/orgasme) sedangkan mazi tidak.

Wadi adalah cairan yang kental berwarna putih yang keluar akibat efek dari air kencing.

Baik mazi maupun wadi, keduanya tidak mewajibkan mandi janabah.
Yang mewajibkan mandi janabah adalah keluarnya air mani (sperma), baik dengan cara sengaja seperti onani dan hubungan seksual atau tidak sengaja seperti mimpi.

Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini:
Dari Abi Said Al-Khudhri ra. Berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya air itu (kewajiban mandi) dari sebab air (keluarnya sperma). (HR Bukhari dan Muslim)

Sedangkan mazi dan wadi, keduanya tidak mewajibkan seseorang untuk mandi janabah.
Lantaran tidak menyebabkan hadats besar, namun keduanya termasuk ke dalam kategori benda najis.

Dasarnya adalah ketetapan para ulama yang mengatakan bahwa semua benda yang keluar lewat kemaluan depan atau belakang adalah najis, baik berbentuk cair, padat atau pun gas.
Kecuali air mani yang justru tidak najis, tetapi menyebabkan hadats besar dan mewajibkan mandi.
Bila keluar mazi atau wadi, maka harus istinja’ seperti keluarnya air kencing.
Demikian juga pakaian yang terkena keduanya, harus disucikan dari najis, untuk boleh dipakai shalat.

Sebagai penutup mari kita perhatikan,
Bagaimana cara mandi janabah yang benar:
Aisyah RA berkata,:
“Ketika mandi janabah, Nabi SAW
– memulainya dengan mencuci kedua tangannya,
– kemudian ia menumpahkan air dari tangan kanannya ke tangan kiri lalu ia mencuci kemaluannya,
– kemudian berwudhu seperti wudhu` orang shalat.
– Kemudian beliau mengambil air lalu memasukan jari-jari tangannya ke sela-sela rambutnya, dan
– apabila ia yakin semua kulit kepalanya telah basah beliau menyirami kepalanya 3 kali,
– kemudian beliau membersihkan seluruh tubuhnya dengan air
– kemudian diakhir beliau mencuci kakinya”
(HR Bukhari/248 dan Muslim/316)