Tempat pengungsian swakarsa pertama yang kami kunjungi, adalah sekolahan Van Lith, tempat ini tidak termasuk yang dikelola oleh Posko bersama Moroseneng. Sekolahan Van Lith sangat dikenal dan terkenal, terlebih setelah banyak berita di dunia maya yang mengatakan bahwa sekolahan ini ambruk. Kenyataan yang kami lihat, sekolahan ini tetap utuh enggak ada yang terlihat ambruk, hanya pohon-pohon di seberang yang mungkin rumah broeder, memang pada ambruk. Bahkan kolam renang di halaman sekolah, meskipun airnya sudah kotor, tetap dinikmati oleh anak-anak pengungsi untuk bermain air dan berenang, seolah mereka tidak peduli musibah yang menimpa keluarga mereka, walaupun saat itu ada rintik-rintik abu vulkanik sekalipun.

Persediaan bantuan ditempat ini sangat mencukupi, tertumpuk rapih berdasarkan jenis barangnya. Konon bantuan-bantuan tersebut, sebagian berasal dari para alumni Van lith. Saya melihat beberapa sepeda motor yang datang dan mengangkut beberapa barang bantuan dari situ, jadi saya pikir persediaan yang berada disitu juga dapat dimanfaatkan oleh pengungsi (atau penduduk?) dari tempat lain yang membutuhkan.

Dari kota Muntilan ini kemudian kita meluncur kedaerah perifer, ketempat pengungsian yang dikelola oleh Posko Moroseneng. Pertama-tama kita kedesa Pring Gunung, disini tempat pengungsiannya berada disebuah Madrasah (sekolah islam), dimana saat itu sedang ada kegiatan pemeriksaan dan pengobatan masal yang dilakukan oleh dokter-dokter dari Atmajaya. Disini juga diserahkan bantuan obat-obatan melalui dokter yang berada disana. Kebetulan saat itu ada truk bantuan yang masuk, Pak Kendra mengajak beberapa dari anggota rombongan untuk naik ke truk dan membantu menurunkan barang-barang dan memasukkan ke dalam gudang. Disinilah kita mendapatkan pertanyaan dari penduduk tentang sasaran bantuan yang kami bawa itu, apakah untuk pengungsi atau untuk penduduk, serta keluhan bahwa banyak yang membuat foto tapi tidak memberikan bantuan. Ditempat ini kami merasakan sedikit gerimis abu dan pasir.

Setelah itu kami bergerak kearah Borobudur, tepatnya ke Desa Salaman.
Dalam perjalanan ke Borobudur, kita singgah di tempat Pengungsian simpang tiga Muntilan-Borobudur-Magelang yang berlokasi di Madrasah NU. Disini sempat masuk kedapur umum dan melihat menunya yang berupa Mie goreng, telur dadar dan tempe goreng, kelihatannya enak sekali, maklum sudah jam 14 lebih jadi perut terasa lapar.

Di Desa Salaman Borobudur, pengungsi ditempatkan di Balai Desa, disini air bersih, logistik dan jamban cukup memadai. Saat berada di candi Mendut dan Muntilan, terlihat gunung Merapi Erupsi kembali, dengan awan hitamnya yang sangat pekat mengarah ke Selatan arah Yogya yang kemudian berbelok ke barat Daya, Muntilan.

Saat kembali ke Muntilan, kita singgah di Rumah sakit untuk bertemu dengan dokternya, membicarakan kebutuhan berikutnya.

Setelah selesai diskusi, ada kiriman nasi bungkus hangat yang diberikan oleh P Ahmad (Korlap Banser) dan Rene koordinator OMK (Orang muda Kristen). Nasi bungkus ini tentu saja sangat wellcome, karena waktu sudah menunjukkan jam 16 lebih.

Hari terakhir sebelum kembali ke Jakarta via Semarang, direncanakan untuk ketemu dengan Ikatan Apoteker Indonesia di Yogya untuk menitipkan bantuan obat-obatan, tetapi karena pengurusnya masih di Jakarta, jadi bantuan kita kirimkan saja. Kemudian kita menuju ke Posko IOF, setelah mendapatkan penjelasan dari ketuanya, bapak Rony Primanto Hari dan bapak Gatot beserta kawan-kawan IOF lainnya, kita juga menyerahkan bantuan obat-obatan. Disini kita melihat bermacam-macam foto evakuasi yang sangat memilukan hati, foto-foto tersebut dengan alasan etis sengaja tidak kami uraikan dalam laporan ini. Saat itu mereka sudah bersiap-siap akan berangkat kearah “atas” yang karena daerahnya cukup berbahaya, maka sangat tidak menyarankan untuk kita ikut mereka, oleh sebab itu kami tidak dapat berlama-lama disana.
Dalam perjalanan ke Semarang, mendapatkan berita SMS dari mereka:

“Barusan team evakuasi mayat tiba di posko (satu orang team kakinya mlonyoh), dapat dua mayat !. Di atas hujan deras, jadi team balik kanan.

Butuh support dari GP Farmasi Pusat,
1. Sepatu lars Tentara atau safety shoes ukuran 41/42, butuh 20 set.
2. Alat komunikasi HT (baru/bekas) untuk lapangan (team evakuasi mayat) untuk monitor/terima instruksi.
Mohon bantuan segera tks. Gatot IOF Yogya.”

Sebagai tambahan catatan, bahwa bantuan dua lusin safety shoes sudah dikirim ke IOF.

Berhubung terbatasnya waktu, maka pengambilan sample sangat sedikit, sehingga data primer maupun sekunder yang terhimpun sangat terbatas, namun mudah-mudahan dapat digunakan untuk bahan pengambilan keputusan lebih lanjut.

Nilai bantuan yang sudah disalurkan kurang lebih sebesar Rp. 150 juta, terimakasih kita ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu menyumbangkan bantuan-bantuan tersebut. Pada saat tulisan ini dibuat, kita telah berhasil mempersiapkan dan akan mengirimkan 12.000 buku tulis untuk anak-anak sekolah disana, masih dibuka kesempatan untuk melengkapinya dengan alat-alat tulis dan/atau tas-tas sekolah (baru atau bekas).

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa pengendalian bantuan untuk meletusnya gunung berapi, sangat berbeda dengan gempa bumi dan Tsunami yang boleh dikatakan dalam waktu pendek bencananya selesai. Meletusnya gunung berapi memakan waktu yang jauh lebih panjang dan radius bencananya dapat setiap saat berubah. Pertolongan yang kita berikan pada suatu tempat, dalam saat yang pendek dapat hilang begitu saja dan beralih ke radius yang lebih besar, begitu juga dapat terjadi lagi ditempat yang baru tersebut.

Pada kesempatan ini, berdasarkan misi yang kami emban, kami sengaja tidak mengulas keadaan pengungsi yang sudah banyak diberitakan begitu luas di berbagai media.
Namun sebagai kesan penutup, “kita merasa bahwa tidak banyak bantuan yang telah kita berikan kepada para pengungsi, sebaliknya mereka telah “membantu” kita dengan menunjukkan, bahwa masih banyak yang lebih menderita daripada kita dan ini merupakan modal utama untuk kita, agar dapat lebih bersyukur terhadap apa yang kita miliki yang semuanya berasal dari-Nya dan setiap saat akan dapat diambil kembali oleh-Nya.”

Demikian, sekilas laporan pandangan mata tentang perjalanan Bakti Sosial Merapi, tentu saja masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam tulisan ini, serta tingkah laku kami sewaktu kita bersama-sama, untuk itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Terimakasih kami sampaikan untuk seluruh teman-teman di Yogya dan Muntilan, tetap semangat dalam bertugas dan semoga selalu mendapatkan lindungan-Nya. Aamiin.

Jakarta, Idul Adha 1431 H
– A r t o m o –

TAMAT