Rombongan bakti Sosial PMMC/GPFarmasi yang dikomandani oleh bapak Kendrariadi ini beranggotakan 10 peserta terdiri dari:
1. Kendrariadi Ketua PMMC, Sekjen GP Farmasi
2. Teddy Imam Soewahyo PMMC
3. Johanes Muryanto PMMC
4. Johanes Setijono PMMC
5. Sugianto PMMC
6. Frans Karmadi PMMC
7. Ruddy Ismanto PMMC
8. Artomo PMMC
9. Abdul Kholis (Majalah Eksekutif)
10. Erwin E Ananto (Majalah Pharma Indonesia)

Rombongan Bakti sosial ini mempunyai misi, antara lain untuk memonitor bantuan yang sudah dikirimkan sebelumnya (berupa obat-obatan tetes mata, masker, selimut, kasur gulung dll.), menyerahkan bantuan baru berupa obat-obatan dll. langsung ke tangan para tenaga kesehatan di kantong-kantong pengungsian, serta melihat kemungkinan apa saja bantuan yang masih dibutuhkan, termasuk untuk evakuasi korban dan untuk menghadapi pasca bencana nantinya, agar supaya bantuan yang diberikan tepat guna dan sesuai kebutuhan.

Dalam menjalankan misinya, rombongan bekerjasama dengan Rotary Club of Mataram Yogyakarta yang menghubungkan dengan sebuah POSKO Bersama Moroseneng (karena bermarkas di gedung pertemuan dan rumah makan Moroseneng) di kota Muntilan. Disamping itu, kita juga berhubungan dengan IOF (Indonesia Offroader Federation) yang dengan fasilitas kendaraan dan pengalaman offroad, serta alat komunikasi yang dimilikinya, banyak terjun untuk membantu dan mengadakan evakuasi para korban.

Hari ini direncanakan untuk mengunjungi kantong-kantong pengungsi di daerah Muntilan yang belum terlalu tersentuh bantuan. Sesuai dengan acara yang telah didiskusikan dan diputuskan semalam, bersama-sama teman-teman dari Rotary yang dihadiri oleh para Petingginya, yaitu President, Chairman, Governor Rotary Club dan Shelterbox Indonesia, antara lain Bapak PP.Dicky Tri Suparyaman,PHF, bapak Wintaka, bapak PDG Keliek JS, bapak Lingga Widyatmaka, Ibu Aryati Wintaka, Ibu Carla, serta bapak Gatot dari IOF Yogyakarta.

Sebelum pergi kearah Muntilan, dengan tujuan sebagai pembanding, kita mengunjungi dahulu di dua tempat pengungsian yang dikelola Pemda DIY di kota Yogyakarta, yaitu di JEC (Jogyakarta Exhibition Centre) dan UPN “Veteran”, dua dari hampir semua gedung pemerintah dan sekolahan di DIY yang digunakan untuk keperluan tersebut.
Kondisi di ke dua tempat tersebut sudah sangat baik, dilengkapi dengan pusat kesehatan dan konsulen psychology, disini saya sempat berdiskusi dengan para Psycholog tentang program untuk mempersiapkan para pengungsi, saat mereka kembali ketempat tinggalnya-pasca musibah (trauma healing).
Tentu saja disana juga sudah tersedia depo logistik lengkap dengan dapur umumnya. Tempat MCK sudah cukup tersedia, disamping yang memang milik gedung, juga telah didirikan beberapa jamban sementara di sekitarnya. Tumpukan pakaian bekas terlihat dalam sebuah gudang, dimana setiap hari dibuka untuk para pengungsi yang dipersilahkan untuk memilih sendiri, mereka mengambil sesuai dengan kebutuhan pribadinya saja.
Ditempat ini diserahkan secara simbolik langsung ke team kesehatannya, bantuan berupa obat-obatan (yang diwakili oleh “DUMIN” tablet dan syrup  Paracetamol-Actavis).

Setelah mengambil truk berisi bantuan di Jalan Magelang, langsung meluncur ke arah Muntilan dengan diikuti beberapa kendaraan Rotarian Yogya.
Pemandangan yang kita lihat di sepanjang jalan sangat menarik tetapi juga sangat mengenaskan,. Menjelang memasuki perbatasan DIY dan Jateng yang dibatasi sebuah sungai yang sudah “mengering” karena dipenuhi lahar dingin dan dua desa, bernama Salam dan Tempel (nama desa yang paling mudah diingat ya), jalan sudah mulai terlihat berdebu. Debu tersebut disamping berasal dari debu vulkanik gunung Merapi yang sesekali masih turun, juga terbawa dan terangkat oleh kendaraan yang lewat, sehingga berterbangan keatas, akibatnya debu halus tersebut akan menutupi pandangan mata dan berbahaya untuk mata dan paru-paru bila terhirup napas, karena komponen utamanya adalah Silikat (SiO3).
Semakin mendekati kota Muntilan debu semakin tebal, sehingga dibeberapa tempat pandangan sering hanya sampai 20 meter saja. Bahkan di kota Muntilan, tepi jalan yang masih ditumpuki oleh lapisan debu tebal yang sudah mengeras itu, harus dibersihkan oleh teman-teman dari beberapa korps TNI dengan menggunakan alat berat, jadi otomatis kendaraan harus berjalan lambat. Inilah salah satu alasan, kenapa pada waktu datang dari Semarang sore hari sebelumnya kita tidak melewati jalan ini, tetapi lewat Boyolali dan Klaten.

Pemandangan lain yang tampak di sepanjang jalan yang sangat berhubungan dengan hajat hidup orang banyak, adalah hancurnya tanaman-tanaman produktif.
Pohon salak Pondoh yang menjadi primadona daerah Muntilan dan sekitarnya itu, buahnya mungkin sudah tidak dapat diharapkan selama satu atau dua tahun kedepan, karena pohonnya sudah ambruk rata dengan tanah, bahkan sebagian sudah mulai dipangkas agar dapat segera tumbuh daun barunya dan diharapkan dapat disusul dengan keluarnya buah. Pohon kelapa yang banyak tumbuh di sepanjang jalan itu, seluruhnya sudah seperti payung taman yang kuncup, pelepah daunnya sudah patah dan tergantung kebawah, yang terlihat menjulang keatas hanya satu-dua daun muda (Janur-Jawa), sehingga terlihat seperti rambut nya si IPIN yang hanya satu itu. Disamping itu semua, yang sangat mengagetkan saya, adalah patahnya, sekali lagi saya ulang, patah bukan roboh, rumpun-rumpun bambu Petung, yaitu bambu besar dan tebal yang banyak terdapat disana. Jenis tumbuhan yang menurut pengertian saya dan selalu saya gunakan untuk contoh keuletan dalam tulisan-tulisan saya, sebagai tanaman terkuat yang tidak akan patah terkena angin sekencang apapun, ternyata juga menyerah tidak berdaya melawan keganasan debu dan kerikil gunung Merapi yang menimpanya.

Sungai-sungai sudah mendangkal karena dipenuhi material dari gunung Merapi, bahkan ada beberapa sungai yang sudah rata dengan bantarannya, tidak terlihat lagi “bekas sungai” yang pernah mengalir disitu. Tentu saja dalam kondisi seperti itu, ancaman banjir akan dapat saja terjadi setiap saat, apabila turun hujan lebat, karena daya tampung sungainya sudah sangat berkurang, air akan mencari jalannya sendiri melintas daerah-daerah yang rendah, tidak peduli daerah pemukiman atau bukan.

Kota Muntilan seperti kota “mati”, dengan sendirinya hal ini akan menambah berkurangnya mata pencaharian para penduduknya, seperti misalnya penjaga toko, tukang becak, kuli panggul di pasar, petani di sawah, dll.

Latar belakang inilah yang nantinya memunculkan suatu fakta yang sering tidak terungkap, tapi banyak ditemui di tempat-tempat pengungsian, khususnya di daerah pedesaan. Bahwa yang disebut dengan “korban” yang “butuh makan” dan perlu dibantu itu, ternyata tidak hanya pengungsi Merapi saja, tetapi juga penduduk desa yang secara langsung dan tidak langsung kehilangan mata pencahariannya.
Diantara kedua “korban” ini, memang ada persamaan dan ada pula perbedaannya, inilah yang membuat terjadinya perbedaan treatment diantara mereka.
Meskipun saat ini mereka sama-sama “tidak punya makananan”, tapi perbedaan terbesar antara korban pengungsi dan penduduk desa disekitar pengungsian, adalah bahwa mereka (penduduk desa) masih memiliki tempat tinggal, memiliki keluarga, masih memiliki “harta” dan mata pencaharian (meskipun saat ini tidak dapat dimanfaatkan), dimana untuk para pengungsi, semuanya itu boleh dikata sudah hilang. Persamaannya adalah mereka sama-sama butuh makan, dan mereka melihat dengan mata kepala sendiri, para pengungsi memperoleh bantuan “sandang, pangan, obat-obatan, perhatian dan pelayanan” yang mengalir terus menerus, sedangkan mereka seperti korban yang dilupakan dan tidak terurus.
Hal ini tentu saja dapat menimbulkan kesenjangan dan membuat mereka menjadi sensitif, bahkan kadang-kadang lebih sesitif daripada para pengungsi. Bila ada bantuan yang datang, mereka akan bertanya, apakah bantuan ini hanya khusus untuk pengungsi atau juga untuk penduduk, dan mereka juga kadang tersinggung kalau ada rombongan yang cuman motret-motret, sambil mereka nggak memperoleh apa-apa.

Disinilah kalimat,
”When Wealth is lost, nothing is lost ……..,
When Health is lost, something is lost………………….,
but When Character is lost, everything is lost ……..

menunjukkan kebenarannya, baik untuk “para korban”, tapi terutama untuk kita-kita yang kebetulan berada jauh dari daerah bencana. Kita tidak kehilangan harta, kita tidak kehilangan kesehatan apalagi nyawa, tetapi kalau kita kehilangan kepribadian, kehilangan perasaan empaty, maka berarti kita telah kehilangan segalanya. Bagaimanapun juga, kita harus selalu percaya bahwa Allah itu Maha Pengatur, dalam tiap kesulitan, selalu ada kemudahan.

POSKO Bersama yang kita hubungi, sebut saja Posko Moroseneng (karena bertempat di rumah makan dan gedung pertemuan Moroseneng, yang karena musibah ini sementara tidak dapat beroperasi lagi), merupakan Posko bersama dari beberapa organisasi masa, antara lain Banser, dll.
Saat kita tiba di Posko, terjadi sesuatu yang menarik dan agak lucu, dimana beberapa teman turun dengan menggunakan perlengkapan bestandard internasional, google & masker berfilter di ujungnya, lengkap dengan kaca mata besar yang dipinjamkan oleh teman-teman dari IOF Yogyakarta, maklum karena di jalan terlihat debu yang begitu pekat. Pak komandan yang berbadan tinggi besar itu, dengan jacket perangnya, diiringi anak buahnya turun dari kendaraan seperti pasukan alien, tetapi begitu melihat team “penerima tamu” yang biasa-biasa saja, bahkan tanpa masker, langsung merasa kalau salah kostum dan buru-buru melepas dan mengganti maskernya menjadi masker kain biasa.

Disini kami diberi penjelasan terlebih dahulu oleh koordinatornya P. Habib dan P Ahmad.
Posko ini menangani 172 kantong pengungsi yang berada di sekitar wilayah Muntilan. Kami melihat bahwa semua “penghuni” kantong pengungsi tersebut tercatat rapih, lengkap dengan masing-masing koordinatornya dan waktu-waktu distribusi, serta jumlah dan macam bantuannya. Bagi mereka motonya adalah berapa orang dan siapa saja yang belum dapat makan, dengan demikian bantuan tidak akan didistribusikan secara berlebih disatu titik pengungsian dan ini memerlukan koordinasi dan informasi yang akurat.
Mereka juga memiliki daftar sukarelawan perorangan yang menyediakan tempat untuk ditinggali oleh dua sampai 15 orang pengungsi, dengan waktu yang mereka tentukan sendiri. Biasanya Posko akan memberikan tempat-tempat semacam ini untuk para keluarga pengungsi yang membawa anak-anak kecil atau bayi, sehingga akomodasi lebih tertata, sedangkan logistiknya tetap berasal dari Posko.
Sayangnya tempat-tempat pengungsi semacam ini sering dianggap “liar” oleh Pemda, dengan alasan sulit terkontrol. Tidak jarang keluarga pengungsi yang baru satu dua hari berada ditempat itu “menghilang”, karena ditarik ke TPS (Tempat Pengungsian Sementara) atau TPA (Tempat Pengungsian Akhir) yang dikelola Pemda.

Di Posko ini juga terlihat banyak kotak-kotak berisi pakaian, sebagian diantaranya memang sengaja disimpan untuk persediaan dan akan dibagikan setelah aman, pada saat para pengungsi akan pulang ketempatnya masing-masing.
Jadi selama tahu cara mendistribusikannya, pakaian bekas yang utuh (tidak sobek-sobek) dan layak pakai masih sangat dibutuhkan, khususnya untuk keperluan bayi, balita dan ibu-ibu tua yang sebagian masih menggunakan kebaya dan kain (jarik – Jawa).

Itulah sebabnya, sebelum berangkat ke Yogya saya pernah memberikan beberapa himbauan, antara lain agar ibu-ibu dapat “mengorbankan” pakaian seragam panitia perkawinan yang biasanya berupa pasangan kain & kebaya dan umumnya hanya dipakai sekali itu saja.

Bukankah hanya itu saja kebaya yang dimiliki oleh ibu-ibu kota besar ini, daripada hanya memenuhi lemari saja, pakaian tersebut dapat disumbangkan kepada para pengungsi Merapi. Meskipun kita kadang berpikir, “bukankah pakaian tersebut akan terlalu mewah untuk mereka?”, tapi dalam situasi seperti ini, kemewahan bukan merupakan ukuran lagi. Pakaian tersebut tetap akan sangat berharga dan dapat dipakai dalam keseharian mereka, karena mereka sudah tidak memiliki apa-apa, sedangkan ibu-ibu ini tidak terbiasa memakai gaun atau setelan kaos dan celana.

(bersambung)