Halo Apa kabar,

Hari itu tanggal 13 November 2010, pagi-pagi jam 4.30 saya sudah keluar kamar, untuk menunaikan kewajiban jalan bergegas selama 40 menit.

Dengan mengikuti jalan di depan hotel, berjalan sampai ketemu dengan jalan Malioboro. Belok kekiri menyusuri jalan Malioboro yang fenomenal itu, menyaksikan kelompok penggemar Vespa yang bermacam-macam modelnya, sambil menikmati bunyi kicauan burung liar di pepohonan di depan benteng dan gedung Agung (suasana yang sudah jarang ditemui di Jakarta).

Jalan terus kearah Selatan, sampai di antara 2 ringin kurung (pohon beringin yang diberi pagar, seperti dikurungi) di alun2 lor (utara) kraton. Berhenti sejenak sambil mendengarkan kotbah dari masjid kraton (terletak di sebelah barat alun-alun), yang menguraikan tentang indahnya suatu perbedaan, termasuk perbedaan waktu sholat I’d Adha yang dilaksanakan dengan penuh toleransi.

Situasinya sangat tenang dan damai, tidak terlihat bekas hujan abu hebat yang terjadi beberapa hari sebelumnya, dimana konon abu yang paling tebal adalah sepanjang Gunung Merapi ke Selatan, melintas jalur lurus kearah kraton, sedangkan di sebelah timur dan barat jalur tersebut, abu semakin menipis.

Kembalinya ke hotel dengan menyusuri jalan yang sama, tapi disisi yang lainnya.
Saat sedang asyik berjalan tiba-tiba dikejutkan dan dikagumkan dengan suara lantang beberapa burung Cucak Rowo dari beberapa kandang yang terletak di depan toko Batik Mirota. Di antara sinar matahari pagi yang masih temaram, terlihat tulisan besar, yang dicetak secara artistik dan rapi tertempel dipintunya “Copet Dilarang Masuk”, gaya khas masyarakat Yogya untuk mengekspresikan maksudnya.

Setelah sampai perempatan, belok kanan menuju Purosani dan tiba di hotel Melia.
Langsung masuk hotel dan menikmati pemandangan Gunung Merapi dari kamar hotel. Pemandangan disajikan dengan sangat jelas, seperti diatas kanvas, melukiskan keperkasaan Gunung Merapi yang memuniupkan awannya keatas, berbentuk cendawan raksasa tipis berwarna jingga, karena terkena pantulan sinar matahari pagi dari arah bawah, bahkan terkesan seperti asap yang dihisap masuk ke mulut kawah. Awan yang tidak terlalu tebal itu, dibawa angin menuju kearah Selatan/Barat daya, berarti kearah Yogya/Muntilan, begitu indah dan tenang, seolah tidak ada bahaya “wedus gembel” yang mematikan, dibalik semua “kecantikan” pemandangan tersebut.

(bersambung)